Flicker Images

Latest Post

Tayang Perdana Wayang Orang di Tangerang

Written By PSBN Tangerang on Selasa, 22 April 2014 | 08.53


Tangerang merupakan salah satu kawasan penyangga ibukota Jakarta. Keberadaan warga masyarakat Tangerang menjadi sedemikian heterogen karena terdiri atas berbagai asal-usul suku dan tenis bangsa. Di Tangerang sudah pasti ada orang Betawi, ada orang Sundanya, orang Jawa, Sumatera, dan juga warga yang berasal dari kawasan Indonesia Timur. Bahkan di Tangerang hingga kini juga eksis warga masyarakat keturunan Tionghoa yang juga telah menjadi kesatuan warga masyarakat di Tangerang. Keberadaan masyarakat yang plural tersebut sudah pasti disertai pula dengan keanekaragaman seni budaya yang diwarisi secara turun-temurun hingga kini. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa Tangerang juga merupakan salah satu miniatur Indonesia.

Salah satu suku bangsa yang terus eksis di tengah masyarakat Tangerang, masyarakat Jawa masih terus nguri-uri atau melestarikan seni dan budaya adiluhung warisan nenek moyang diantaranya dalam bentuk seni wayang orang. Dalam rangka memuncaki rangkaian acara HUT Pemerintah Kota Tangerang ke-21, Paguyuban Seni Budaya Nusantara mempersembahkan pagelaran wayang orang dengan judul “Gatotkaca Winisuda”.

Pentas wayang orang di Tangerang merupakan sebuah kejadian yang sangat luar biasa. Selama keberadaan Pemerintah Kota Tangerang, bahkan sepenjang keberadaan sejarah wilayah Tangerang, belum pernah satu kalipun dipentaskan pertunjukan seni wayang orang. Oleh karena itu, pagelaran wayang orang yang digelar pada Sabtu malam, 12 April 2014 bertempat di GOR Kota Tangerang kali ini merupakan kali pertamanya ada pentas wayang orang di Tangerang. Sebuah prestasi sejarah yang sangat luar biasa.

Barata1Kisah Gatotkaca Winisuda diawali dengan kelahiran putera Bima dari istri Dewi Arimbi. Jabang bayi raksasa tersebut kemudian diberi nama Tetuko. Pada saat dilahirkan terdapat sebuah keanehan pada diri si jabang bayi. Tali pusar sang bayi tidak bisa dipotong sebagaimana bayi pada umumnya. Akhirnya atas nasehat Resi Abiyasa, Arjuna pergi ke Kahyangan untuk meminjam senjata para dewa.

Pada saat yang bersamaan di Kahyangan sedang terjadi huru-hara besar. Raja raksasa Naga Kala Pracono ingin mempersunting Betari Supraba. Kesaktian yang luar biasa membuat para dewa kalang-kabut. Batara Guru akhirnya bersabda bahwa yang dapat mengalahkan Kala Pracono adalah jabang bayi Tetuko. Kepada Betara Narada diperintahkan untuk mengirimkan senjata Kunta kepada Arjuna untuk diberikan kepada Tetuko. Di tengah perjalanan, Narada khilaf dan justru memberikan senjata Kunta kepada Karna yang rupanya memang sangat mirip dengan Arjuna.


Setelah Arjuna bertemu Narada, Arjuna diperintahkan untuk mengejar Karna yang telah membawa senjata Kunta. Akhirnya Arjuna berhasil mengejar Karna dan menyatakan ingin meminjam senjata Kunta untuk memotong tali pusar keponakannya. Karna tidak terima, maka terjadilah pertempuran memperebutkan senjata Kunta. Pada saat pergulatan, Arjuna berhasil memegang warangka senjata Kunta. Terjadilah saling tarik-ulur yang sangat alot. Akhirnya terbukalah senjata Kunta dari warangkanya. Arjuna mendapatkan warangka, sedangkan Karna memegang senjata Kunta dan berhasil meloloskan diri.

Atas saran dari Semar, Arjuna selanjutnya pulang ke Negeri Pringgodani. Anehnya dengan warangka senjata Kunta, tali pusar jabang bayi Tetuko berhasil diputus. Namun demikian, atas kehendak para dewata warangka tersebut kemudian terbenam dan masuk ke dalam perut bayi Tetuko.


Dengan berat hati, para Pandawa melepaskan bayi Tetuko untuk dijadikan panglima perang menghadapi raksasa Kala Pracono. Bagaimana mungkin seorang bayi merah akan mampu bertempur dan mengalahkan raksasa yang sakti mandraguna. Namun demikian, dengan waskita Semar meyakinkan Pandawa bahwa semua hal tersebut sudah merupakan ketentuan dan takdir dari Sang Hyang Hakarya Jagad.

Pada saat pertama kali dihadapkan musuhnya, Tetuko berhasil mencolok mata Kala Pracono. Raksasa tersebut sangat marah, sehingga tubuh kecil Tetuko dibantingnya sekuat tenaga. Bayi itupun terluka sangat parah, bahkan menemui ajalnya. Oleh para dewa bayi Tetuko kemudian digodog dengan dimasukkan ke dalam kawah Candradimuka. Satu per satu para dewa kemudian memasukkan senjatanya masing-masing untuk menambah sipat kandel atau kesaktian Tetuko. Akhirnya Tetuko berhasil dihidupkan kembali dan justru kemudian menjadi manusia yang sangat sakti mandraguna, berotot kawat dan bertulang besi. Ia kemudian mendapat julukan Gatotkaca.

Gatotkaca kembali bertempur dengan Kala Pracono. Melalui tempaan di kawah Candradimuka, Gatotkaca memiliki ilmu pukulan yang sangat mematikan pada kepalan kedua tangannya. Gerak-geriknya sangat trengginas, cepat melebihi kecepatan kilat. Hantaman dan tendangannya menggelegar bagaikan halilintar. Bahkan ia memiliki kemampuan untuk terbang ke angkasa dengan sangat cepat. Dengan kedigdayaanya, akhirnya Gatotkaca berhasil menuntaskan Kala Pracono.

Pada saat mengutus Tetuko untuk melawan Kala Pracono, para dewa sempat memberikan janji bahwa jika Tetuko berhasil mengalahkan musuhnya, maka kelak Gatotkaca akan dinobatkan sebagai pemimpin para dewa di Kahyangan. Namun pada kenyataannya janji tersebut justru diingkari oleh para dewa. Merasa tidak terima akhirnya Gatotkaca dengan dibantu Wisanggeni dan para putera Pandawa yang lain nggruduk serta menduduki tahta Kahyangan. Ia menobatkan diri sebagai penguasa Kahyangan dengan gelar Batara Guru Putera.


Barata11Pagelaran wayang orang Gatotkaca Winisuda ini merupakan kolaborasi yang sangat apik antara para seniman wayang orang di Tangerang dan Paguyuban Wayang Orang Barata. Sebagaimana diketahui Wayang Orang Barata merupakan kelompok seniman wayang orang yang secara rutin mementaskan pagelaran wayang orang di Pasar Senin, Jakarta Pusat.


Lebih daripada sekedar sebuah tontonan, wayang memberikan banyak tuntunan dan tatanana kehidupan. Banyak nilai dan hikmah kisah yang dapat dipetik dari kisah-kisahnya. Dari kisah Gatotkaca Winisuda ini paling tidak kita diajarkan mengenai sifat keutamaan para ksatria, gigih dan pantang menyerah, tetapi juga senantiasa menjunjung sikap kejujuran, amanah dalam janji, serta mengutamakan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadinya dalam perilaku rame ing gawe namun sepi ing pamrih. Sebagai negeri yang tengah terpuruk dalam krisis nilai dan moralitas, sangat pantas kiranya jika bangsa ini mau berendah hati untuk kembali menggali nilai filosofis yang telah diwariskan oleh para leluhur bangsa Nusantara. Salah satunya yang terkandung dalam ajaran yang dibabar melalui kisah dunia pewayangan. Hidup wayang!

Foto : PSBN Tangerang

Anda Juga Bisa Menjadi Seniman

Written By PSBN Tangerang on Senin, 21 April 2014 | 12.59

Kreativitas seringkali dikaitkan dengan seni, karena seni merupakan media yang memberi banyak ruang untuk mengasah kreativitas. Padahal, sebenarnya kreativitas bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk. Misalnya lewat ilmu pengetahuan, teknologi, karya kreatif lain yang bersifat fungsional, bahkan lewat bisnis.

Seni memang tak bisa lepas dari kehidupan kita. Kalau Aristoteles mengatakan manusia adalah 'anima intelectiva' (hewan yang berpikir), Monty menambahkan bahwa manusia juga 'anima estetica' atau hewan yang menciptakan keindahan. Seni sendiri bisa diartikan sebagai karya atau hasil kreativitas yang memiliki unsur estetika. Seni diciptakan dengan dan untuk menggerakkan pikiran, perasaan, atau nilai-nilai seseorang melalui panca inderanya.

Di sisi lain, seni juga bisa diartikan sebagai cara untuk menciptakan sesuatu. Manusia bukanlah robot yang mengerjakan sesuatu tanpa perasaan. Ketika seseorang melakukan sesuatu dengan passion, biasanya dia akan all out dan menghasilkan karya yang memuaskan. Seorang guru SD yang sangat mencintai pekerjaannya, misalnya, mampu menciptakan metode pengajaran baru yang interaktif dan menarik.  

Sayangnya, kita terkadang terlalu banyak memikirkan hasil atau membayangkan bagaimana pendapat orang terhadap karya kita. Karena banyaknya pertimbangan, akhirnya kita jadi  gentar untuk menciptakan karya. Padahal, kata Monty, banyak pelukis dunia, seperti Pablo Picasso, yang terus berkarya tanpa peduli apa kata orang tentang lukisannya. Meskipun awalnya orang tidak bisa menghayati karya-karya Picasso, kini lukisan-lukisannya justru bernilai tinggi dan banyak dicari orang. Ya, seorang seniman sejati memang memiliki kemandirian dalam melakukan sesuatu. Mereka berkarya berdasarkan patokannya sendiri dan tidak akan berhenti sebelum mencapai hasil yang diinginkannya.

Selain media kreatif, seni juga bisa menjadi salah satu alat terapi. Ketika sedang stres karena padatnya rutinitas, kita bisa menciptakan karya seni sambil melepaskan segala kepenatan, ketegangan, sekaligus untuk menumpahkan perasaan (katarsis). Karenanya, seni diperlukan sebagai salah satu cara yang paling menyenangkan untuk menyeimbangkan dunia kerja dan kehidupan (work life balance).

Karena itu, sekalipun sudah ‘berumur’, bukan berarti Anda terlambat untuk mengasah talenta seni. Kenali kelebihan diri sendiri dengan rajin mengasah sensitivitas. Jika Anda peka terhadap visual, maka akan lebih cocok membuat karya-karya yang bersifat visual, seperti film, foto, atau lukisan. Jika Anda seorang auditory yang lebih peka terhadap suara, cobalah belajar memainkan alat musik atau olah vokal. Sedangkan kalau Anda lebih tactile, cobalah belajar menari atau dansa.  “Saya sendiri memilih berenang, karena selain bisa dilakukan  kapan saja, sambil berenang saya juga bisa sekaligus bermeditasi,” ujar Monty yang juga seorang art therapist ini.

Jadi inilah kuncinya: lakukan sesuatu yang paling Anda suka tapi dengan cara yang berbeda. Tidak perlu berambisi menjadi penulis buku best seller, atau pemusik dan pelukis kelas dunia. Bereksperimen meracik bumbu masak untuk menciptakan hidangan yang lain dari yang lain, itu saja sudah merupakan karya seni. Semakin Anda bisa melakukan sesuatu dengan cara sendiri, Anda akan lebih puas dan semakin percaya diri untuk terus berkarya. 

Sumber : pesona.co.id

Prosesi 12 Tahun Sekali Gotong Toapekong

Written By PSBN Tangerang on Kamis, 11 Oktober 2012 | 00.59

Gotong Toapekongmerupakan prosesi yang digelar setiap 12 tahun sekali. Berlangsung meriah pada Sabtu, 6 Oktober 2012. Ritual ini telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu ini diselenggarakan di Klenteng Boen Tek Bio, Jalan Bhakti No.14, Pasar Lama, SukaSari, Tangerang.
Ritual ini bertujuan untuk menolak bala dan membersihkan hawa jahat yang ada di Bumi agar kehidupan masyarakat berjalan damai, aman dan sejahtera. Oey Tjin Eng selaku pengurus Klenteng Boen Tek Bio mengatakan ritual 12 tahun sekali itu dilaksanakan bertepatan datangnya tahun Shio Naga (liong)



 Sebagai bagian dari prosesi acara, ribuan masyarakat Tionghoa dan masyarakat umum mengarak patung Dewi Kwan Im Hud Couw, dimulai dari Klenteng Boen Tek Bio di Pasar Lama, Jl. Bhakti Sukasari menuju Klenteng Boen San Bio di Jl. Moch Toha. Arak-arakan Gotong Toapekong juga dimeriahkan pertunjukkan liongsay sebagai pembuka jalan diramaikan berikutnya dengan  barongsay, kilinsay, angklung gubrak, perahu pecun, barisan berkuda, barong bali, dan rombongan pembawa petaka.

Ritual 12 tahun sekali ini pertama kali dilakukan tahun 1856 untuk memperingati kembalinya Kim Sin dari Kelenteng Boen San Bio ke Kelenteng Boen Tek Bio. Pada masa itu, diadakan renovasi besar-besaran terhadap Kelenteng Boen Tek Bio tahun 1844 sehingga sejumlah patung dewa (Kim Sin) di Kelenteng Boen Tek Bio dipindahkan ke Kelenteng Boen San Bio, yaitu sekira 500 meter dari Kelenteng Boen Tek Bio. Renovasi dilakukan  pekerja dan beberapa ahli yang didatangkan langsung dari Tiongkok. Prosesi pemindahan patung dewa inilah yang kemudian menjadi cikal bakal diperingatinya ritual Gotong Toapekong.

Keberadaan Kelenteng Boen Tek Bio tidak terlepas dari sejarah Kota Tangerang dan awal mula keberadaan orang Tionghoa di Tangerang. Boen (intelektual), Tek (kebajikan), Bio (tempat ibadah) diartikan sebagai tempat bagi umat manusia untuk menjadi insan yang penuh kebajikan dan intelektual.  Klenteng ini diperkirakan berdiri tahun 1684 dengan awal berdinding bambu dan beratap rumbia. Akan tetapi, bangunan sekarang dibangun pada 1775.

Masjid Kali Pasir

Written By PSBN Tangerang on Rabu, 10 Oktober 2012 | 05.39


Masjid ini terletak di Kampung Kalipasir (Pasar Lama) RT. 02 RW 04 No. 18 Kelurahan Sukasari Kota Tanggerang. Tidak ada sumber pasti yang kami dapatkan hanya beberapa narasumber yang bercerita bahwa masjid ini didirikan sekitar tahun 1700 oleh Tumenggung Pamit Wijaya yang berasal dari Kahuripan Bogor. tahun 1712 kepengurusan masjid dilanjutkan oleh Puteranya yang bernama Raden Bagus Uning Wiradilaga untuk melengkapi masjid maka dibangun menara di sebelah utara bangunan utama ruang utama shalat berbentuk empat persegi dilapisi keramik berwarna putih atap masjid memiliki atap utama berbentuk piramida dan atap bagian luarnya seperti atap rumah pada umumnya.

Bendungan Pintu Air Sepuluh

Bendungan Pintu Air Sepuluh adalah nama populer Bendungan Pasar Baru Irigasi Cisadane atau Bendungan Sangego yang terletak di Kelurahan Koang Jaya, Kecamatan Karawaci, Tangerang. Bendungan Pintu Air Sepuluh ini berada di sebelah kanan jalan saat anda menuju Masjid Pintu Seribu yang jaraknya sekitar 3,2 km lagi arah ke barat daya.

Bendungan Pintu Air Sepuluh, sesuai dengan nama julukan populernya, memiliki sepuluh buah pintu air yang lebarnya masing-masing sepuluh meter. Penguasa Belanda mulai membangun Bendungan Pasar Baru Irigasi Cisadane ini pada tahun 1927 dan mulai digunakan 1932. Konon penguasa kolonial perlu mendatangkan para pekerja yang berasal dari kota Cirebon ketika membangun Bendungan Pintu Air Sepuluh ini.



Bendungan Pintu Air Sepuluh ketika batang pisang masih menjadi mainan menarik bagi anak-anak untuk bermain di sungai yang permukaan airnya tampak sedang surut. Seorang pria terlihat tengah berjalan membawa jala untuk mengais rejeki dari dalam perut sungai Cisadane di dekat Bendungan Pintu Air Sepuluh ini.


Bendungan Pintu Air Sepuluh saat seorang pria memancing dengan berjongkok di “pulau” di tengah sungai, yang membutuhkan kesabaran dan kewaspadaan karena permukaan air sewaktu-waktu bisa naik. Ikan sebesar telapak tangan beberapa kali terlihat berhasil dikail dan dimasukkan ke dalam bubu.

Bendungan Pintu Air Sepuluh saat seorang pria tampak tengah mengail dari atas bendungan yang cukup tinggi. Bendungan Pintu Air Sepuluh ini mengairi areal persawahan seluas 40.000 ha lebih yang meliputi Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kabupaten Serang dan DKI Jakarta.

Bendungan Pintu Air Sepuluh saat tiga buah pintu air dibuka. Pintu-pintu air Bendungan Pintu Air Sepuluh ini masih digerakkan oleh mesin-mesin tua HEMAAF warisan Belanda berkekuatan 6000 Watt yang seusia dengan umur bendungan pintu air sepuluh ini. Ada lima buah mesin penggerak pintu yang masing-masing menggerakkan dua buah pintu air.

Bendungan Pintu Air Sepuluh saat seorang pria muda tampak tengah menebar jala dari atas bendungan di ruang diantara dua buah pintu air.

Sungai Cisadane bukan hanya menghidupi para petani dan pemilik sawah serta menjadi sumber air minum kota Tangerang, namun juga menjadi tempat bermain anak dan mencari ikan.

Bendungan Pintu Air Sepuluh pada ruang diantara pintu air. Sungai Cisadane adalah salah satu sungai utama yang mengalir melewati Propinsi Banten dan Jawa Barat, merentang sepanjang 80 Km. Sumber air Sungai Cisadane berawal dari Gunung Salak – Pangrango di Kabupaten Bogor, dan mengalir ke Laut Jawa.

Bendungan Pintu Air Sepuluh merentang sepanjang 125 meter dan dibuat dengan konstruksi beton bertulang. Cukup menarik untuk melihat aktivitas penduduk di sekitar bendungan ini, dan jika mau anda pun bisa naik melewati tangga untuk kemudian berdiri menikmati pemandangan dari atas Bendungan Pintu Air Sepuluh, tentu dengan ijin penjaga.

Akan sangat menarik jika saja di tepian Bendungan Pintu Air Sepuluh dibangun tempat minum dan makan yang bisa dipakai bersantai dan menikmati pemandangan setelah berjalan menyusur sungai dan bendungan.

Kuliner Laksa Tangerang



Makanan legendaris asal kota Tangerang ini bisa dibilang salah satu warisan kuliner yang patut dilestarikan. Laksa Tangerang gurih disantap dengan daging ayam ataupun telur dan juga buras.

Penjual laksa di daerah Tangerang banyak dijumpai di Jl. Moh. Yamin atau yang biasa dikenal dengan kawasan LP Wanita Dewasa, kota Tangerang. Menyusuri kota Tangerang di sore hari cukup mengasyikkan, suasananya cukup adem. Menyisir jalan di sepanjang LP Wanita Tangerang belum juga saya jumpai penjual laksa, padahal biasanya penjual laksa ini banyak sekali bak jamur.

Setelah bertanya-tanya warga sekitar, saya baru tahu kalau penjual laksa di kawasan Tangerang telah dikumpulkan di satu area bernama 'Kawasan Kuliner Laksa Tangerang' yang berada di ujung Jl.Moh. Yamin (masih di depan LP Wanita Tangerang). Para penjual laksa yang sudah dikenal di daerah Tangerang kini menempati sebuah area yang cukup bersih dan nyaman untuk para pengunjung.


Laksa Tangerang menggunakan mie berwarna putih yang terbuat dari beras dan ukurannya sedikit besar. Mie ini cukup mengenyangkan, tapi jika dirasa kurang nendang buras yang ada di setiap meja pun bisa jadi aduannya. Tekstur mienya cenderung lebih kasar dibandingkan mie kuning dan tidak terlalu lentur seperti mie pada umumnya. Rasa kuahnya gurih namun tidak bikin eneg  meskipun menggunakan santan.

sumber : http://food.detik.com

Profil Kelenteng Boen Tek Bio




Kelenteng Boen Tek Bio dikenal luas sebagai klenteng tertua di Tangerang yang telah berumur lebih dari 3 abad, meski tidak ada data pasti tentang kapan berdirinya klenteng ini. Komunitas Cina di perkampungan Petak Sembilan diperkirakan mendirikan klenteng ini secara bergotong royong pada sekitar tahun 1684 dalam bentuk yang masih sangat sederhana. Pada tahun 1844 klenteng ini mengalami renovasi dengan mendatangkan ahlinya dari negeri Cina.


Klenteng Boen Tek Bio ("tempat ibadah sastra kebajikan") merupakan salah satu dari tiga klenteng yang besar dan berpengaruh serta berusia tua di daerah Tangerang. Dua klenteng lainnya adalah Klenteng Boen Hay Bio (berdiri 1694) dan Klenteng Boen San Bio (1689).
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PSBN Tangerang - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger